Skip links

Harimau! Harimau! – Mochtar Lubis

Konflik batin yang dipicu oleh kehadiran harimau membuat novel ini terasa relevan meski telah berusia lebih dari lima puluh tahun.

Oleh Anggi Rosalia

Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali bersua dengan karya salah seorang novelis klasik Indonesia: Mochtar Lubis. Meski namanya kerap hadir dalam pelajaran Bahasa Indonesia, aku baru benar-benar membaca karyanya beberapa tahun lalu, setelah mendengar siniar alih wahana dari novel Senja di Jakarta. Dialog-dialognya indah, satir, namun tetap membumi, cukup untuk membangkitkan rasa penasaran dan mendorongku membaca versi lengkap novelnya. Sayangnya, ketika aku melanjutkan ke kumpulan cerpen Perempuan, aku tidak menemukan kegugahan yang sama. Pengalaman itu membuatku enggan menelusuri karya Mochtar Lubis yang lain.

Namun kali ini, angin justru membawaku kembali kepadanya melalui novel yang ditulis saat ia berada di penjara pada 1975. Dilihat dari sampulnya, Harimau! Harimau! terasa berat, bahkan untuk sekadar diambil dari rak. Ilustrasinya suram dan tidak menggoda. Tapi begitu halaman demi halaman dibuka, rasa berat itu perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu yang terus tumbuh, hingga tanpa sadar aku sudah berada di pertengahan cerita. Di titik inilah aku sepenuhnya sepakat dengan ungkapan don’t judge a book by its cover.

Harimau! Harimau! berkisah tentang tujuh orang dengan usia dan latar yang berbeda, yang mengarungi hutan Sumatera untuk mengumpulkan damar. Mereka dipimpin oleh Wak Katok yang dianggap sakti dan disegani sebagai dukun, bersama Pak Haji, Sutan, Talib, Sanip, Buyung, dan Pak Balam. Dalam perjalanan yang memakan waktu berminggu-minggu itu, mereka singgah di rumah Wak Hitam, sosok misterius yang konon memiliki ilmu hitam dan disebut-sebut lebih sakti dari Wak Katok. Wak Hitam tinggal di sebuah rumah sederhana di tengah hutan bersama istri mudanya yang cantik dan sangat belia, Siti Rubaiyah.

Dari pertemuan inilah konflik mulai bersemi. Kecantikan dan kemolekan Siti Rubaiyah menggucang batin para lelaki. Mereka iri pada Wak Hitam yang sudah renta tetapi mampu memiliki istri seperti Siti Rubaiyah. Godaan itu juga diam-diam menggerogoti Wak Katok dan Buyung, terutama usai mereka tanpa sengaja melihat Siti Rubaiyah tanpa busana di sungai. Pikiran mereka menjadi liar dan gusar, meski kedua-nya tak berani merebutnya, lantaran dihantui kesaktian Wak Hitam.

Petaka justru menunggu mereka di perjalanan pulang. Seekor harimau mengintai rombongan itu. Perjalanan pulang yang seharusnya tenang berubah menjadi penuh teror. Mereka bergantian berjaga, namun takdir berkata lain: Pak Balam diterkam harimau saat buang air. Dalam kondisi luka parah, dia menyebut serangan harimau itu sebagai hukuman Tuhan atas dosa-dosa yang mereka perbuat. Ia bahkan menyebut kesalahan Wak Katok, dan menyerukan agar setiap orang mengakui dosa dan memohon ampun, hanya dengan cara itulah, katanya, mereka bisa pulang dengan selamat.

Ucapan Pak Balam mengguncang Wak Katok. Wibawa dan kesaktian ia banggakan terasa runtuh. Sejak itu, Wak Katok tampil lebih keras dan otoriter demi menutupi ketakutannya. Sementara Pak Haji, Sutan, Talib, Sanip, dan Buyung diliputi kecemasan. Bagi mereka, dosa adalah urusan manusia dan Tuhan, bukan sesuatu yang diumbar di hadapan sesama. 

Konflik batin yang dipicu oleh kehadiran harimau membuat novel ini terasa relevan meski telah berusia lebih dari lima puluh tahun. Ia berbicara tentang nafsu, hasrat akan kekuasaan, ketakutan, dan ego – hal-hal yang kerap mendorong manusia saling meniadakan. Setiap tokoh memiliki caranya sendiri untuk bertahan: ada yang main aman, ada yang licik, namun tak satu pun benar-benar luput dari konsekuensi. Awalnya aku menyukai Buyung karena keluguannya, tetapi di akhir cerita justru Pak Haji yang paling membekas, tokoh yang sekilas tampak oportunis, namun barangkali itulah sikap yang paling dibutuhkan dalam hidup: secukupnya.

Harimau! Harimau! dapat dibaca sebagai alegori protes Mochtar Lubis terhadap pemerintahan Soekarno. Novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai fiksi dengan muatan sejarah dan politik. Entah mengapa, novel ini juga mengingatkanku pada Animal Farm karya George Orwell: sama-sama sederhana di permukaan, namun tajam dan getir ketika direnungkan lebih dalam.

Anggi Rosalia lahir di Jakarta dan kini menetap di Sleman. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan membaca sambil menjaga Toko Buku Akik, pekerjaan yang diam-diam dianggap sebagai bentuk manifestasi akan mimpinya memiliki taman baca atau toko buku sendiri suatu hari nanti. Di sela-sela itu, dia bergulat dengan proses menulis yang tak mudah: terhambat oleh rasa tidak percaya diri dan terlalu banyak keinginan. Namun, dia percaya, dengan dukungan teman-teman, tulisan-tulisan yang selama ini tertahan akan menemukan jalannya untuk selesai.

Leave a comment

This website uses cookies to improve your web experience.