Oleh Akata
Membaca ini di ruang publik berhasil memancing kerutan di dahi orang-orang sekitar. Namun, bagi saya, karya Naomi Wolf adalah sebuah keberanian yang berwujud buku.
Sejak pandangan pertama, saya sudah tertambat pada desain sampul buku. Ilustrasi buah delima yang merekah bagi saya adalah sebuah kecerdasan visual. Ia estetik, organik, dan menjadi metafora megah tanpa harus jatuh pada kevulgaran. Delima itu seolah berbisik, bahwa apa yang akan kita baca dan maknai ulang adalah tentang inti kehidupan yang ranum, mendalam, dan multidimensi.
Naomi mengajak kita menelusuri sebuah labirin yang indah sekaligus getir melalui kalimat yang terus bergema di kepala saya, “Paradoks penting dari kondisi perempuan ini adalah untuk benar-benar bebas, perempuan harus memahami cara-cara di mana (tubuh) merancang kita untuk terikat dan bergantung pada cinta, hubungan keintiman, dan jenis erosi yang tepat di tangan perempuan maupun laki-laki yang tepat.”
Kalimat yang tidak sekadar mencerahkan, namun juga membasuh kesadaran saya. Naomi tidak menuntut kita menjadi karang yang dingin dan tak tersentuh demi sebuah kemandirian semu. Namun justru sebaliknya, ia merayakan kerentanan sebagai kekuatan. Mengingatkan bahwa dalam desain biologis kita, ada ruang yang memang haus akan koneksi. Dan kebebasan sejati tidak lahir dari penolakan atas hasrat tersebut, melainkan dari kesadaran penuh (mindfulness) saat momen intim itu menyapa.
Menariknya lagi, di sinilah kuasa akhirnya didefinisikan ulang. Bahwa ia adalah kedaulatan untuk memilih siapa yang diizinkan melintasi ambang pintu privasi kita. Momen intim, dalam kacamata Naomi, bukan lagi sekadar desakan biologis yang pasif, melainkan sebuah simfoni kesadaran di mana perempuan adalah pemegang kendali atas energinya sendiri, berhenti menjadi objek yang pasif dan bertransformasi menjadi subjek yang berdaulat.
Lebih jauh, buku ini membedah bagaimana sejarah dan budaya sering kali mencoba memutuskan sirkuit komunikasi antara otak dan tubuh perempuan. Ketika seorang perempuan mampu mengenali rahasia saraf dan emosinya, ia berhenti menjadi objek yang menunggu untuk “ditemukan” atau “dibahagiakan” oleh pihak luar. Ia menjadi subjek yang paham kapan harus menyerahkan diri dalam keterikatan, dan kepada siapa ia memercayakan kerentanannya. Pemahaman akan anatomi dan psikologi ini bukanlah sekadar pengetahuan medis, melainkan alat politik untuk merebut kembali harga diri yang sering kali terkikis oleh ketidaktahuan.
Di titik inilah, kita akhirnya menemukan jalan pulang ke dalam diri sendiri melalui setiap sentuhan yang disadari. Kita belajar bahwa menjadi intim bukan berarti menjadi lemah, dan menjadi bebas bukan berarti menjadi sendirian. Buku ini adalah sebuah manifesto bagi setiap perempuan untuk berhenti meminta izin atas tubuhnya sendiri. Ia adalah undangan untuk merayakan koneksi, merangkul hasrat, dan berdiri tegak dalam kedaulatan yang utuh. Sebab, saat manipulasi atas ketidaktahuan itu luruh, yang tersisa hanyalah kejujuran antara tubuh, jiwa, dan cinta yang sadar.
Bagi saya, Vagina: Kuasa dan Kesadaran adalah sebuah manifesto sunyi yang perkasa dan berani. Sebuah undangan untuk merayakan keintiman tanpa sedikit pun menyerahkan kedaulatan.

Akata adalah seorang penulis asal Magelang yang masih terus merawat napas perjuangan keberdayaan perempuan, sembari menyeduh kopi dan berpuisi. Hidupnya saat ini berpijak di antara dua sisi: kadang ia di warung, dan kadang di panggung. Selain gemar jalan-jalan dan mencicipi makanan baru, ia juga penikmat seni dan cahaya pagi. Salah satu rahasia yang tersimpan cukup rapi hingga kini adalah ia tidak bisa mengendarai motor sendiri. Beberapa kumpulan lembar kalimatnya berjudul Kicau Burung di Kepalamu dan Suara Perempuan Akar Rumpu”. Selebihnya, ada di laman @akatalimanira.
